Senin, 06 November 2017

Pengaruh pertumbuhan dan perkembangan (manusia) terhadap pendidikan

- Pertumbuhan 
Dalam kehidupan manusia, ada dua proses yang beroperasi secara kontinyu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan dan perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini saling bergantung satu sama lain. Kedua proses itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Akan tetapi, bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.
Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif, yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu.
Menurut A.E. Sinolung (1997) pertumbuhan merujuk pada perubahan kuantitas, yaitu yang dapat dihitung atau diukur, seperti tinggi dan berat badan. Sedangkan menurut Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran sebagai akibat dari perbanyakan sel-sel.
Hasil pertumbuhan antara lain bertambahnya ukuran-ukuran kuantitatif badan anak, seperti panjang, berat, dan kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin sempurna tentang sistem jaringan saraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses perubahan dan pematangan fisik.
Pertumbuhan jasmaniah dapat diteliti dengan mengukur berat, panjang, dan ukuran lingkarannya. Umpamanya lingkaran kepala, lingkaran dada, lingkaran pinggul, lingkaran lengan, dan lain-lain. Dalam pertumbuhannya setiap bagian tubuh mempunyai perbedaan tempo kecepatan seperti pertumbuhan alat-alat kelamin berlangsung paling lambat pada masa kanak-kanak, tetapi mengalami percepatan pada masa pubertas. Sebaliknya pertumbuhan susunan saraf pusat berlangsung paling cepat pada masa kanak-kanak kemudian menjadi lambat pada akhir masa kanak-kanak, dan relatif pada masa pubertas.

Contoh pertumbuhan antara lain :
a.       Bertambahnya tinggi badan
b.      Bertambahnya lebar bahu
c.       Bertambahnya lebar panggul
d.      Bertambahnya ketebalan dada
e.       Dll.

- Perkembangan
Istilah perkembangan (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, antara lain pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.
Menurut Nagel (dalam A. Razak Daruma, Sulaiman Samad, Mustafa, 2007) perkembangan merupakan pengertian di mana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi, maupun dalam bentuk akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Sugiyanto ( 2006 ) perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah yang makin terorganisasi dan terspesialisasi. Makin terorganisasi artinya organ-organ tubuh makin bisa dikendalikan sesuai dengan kemauan. Makin terspesialisasi artinya organ-organ tubuh semakin bisa berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Santrock (1998), menjelaskan perkembangan sebagai berikut.
Development is the patten of change that begins at conception and continues throught the life span. Most development involves growth, althought it includes decay (as in death and dying). The patten of movement is complex because it is product of ceveral processes biological, cognitive, and socioemotional.
Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa perkembangan lebih mengacu kepada perubahan karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah yang lebih maju dan berlangsung secara terus menerus.
Contoh perkembangan:
Bayi yang belum bisa berjalan kemudian meningkat menjadi bisa berjalan tertatih-tatih dua atau tiga langkah pada saat mengawali masa kecil, dan selanjutnya menjadi bisa berjalan dengan gerakan yang lancar sampai beberapa langkah.

- Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh KembangIndividu

Pada umumnya individu memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:

a.       Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang individu.

b.      Ras/etnik atau bangsa
Individu yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.

c.       Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek,  gemuk atau kurus.

d.      Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun
pertama kehidupan dan masa remaja.

e.       Jenis kelamin.
Fungsi reproduksi pada individu perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan individu laki-laki akan lebih cepat.

f.       Genetik.
Genetik  adalah bawaan individu, yaitu potensi individu yang akan
menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang individu seperti kerdil.

g.      Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada   ibu hamil dan lain-lain.

h.      Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak.

i.        Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.

j.        Psikologis
Hubungan individu dengan orang sekitarnya. Seorang individu yang 
tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau individu yang selalu merasa
tertekan,  akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan
perkembangannya.

k.      Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan individu.

l.        Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-individu sangat
mempengaruhi tumbuh kembang individu.

- IMPLIKASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDU TERHADAP PENDIDIKAN DASAR

Implikasi Genetik dan Lingkungan Terhadap Pendidikan Dasar
Dalam situasi sekolah, gen-gen dapat dilihat sebagai bagian dari dunia nyata individu-individu. Meskipun demikian, bagi seseorang yang bekerja dekat dengan individu-individu dan remaja, kekuatan dan kelemahan dari pengaruh genetik ini adalah penting untuk dipahami. Seorang guru misalnya, perlu memahami sifat-sifat dan perbedaan-perbedaan individual. Di samping itu, pemahaman tentang dampak faktor-faktor lingkungan terhadap perkembangan individu akan memberi pendidik suatu pertimbangan yang optimistis tentang potensi-potensi yang penting ditumbuh kembangkan dalam diri semua peserta didik.
Mcdevit dan Ormrod (2002) merekomendasikan beberapa hal penting yang perlu dilakukan guru dalam menyikapi pengaruh genetik dalam lingkungan bagi perkembangan individu, yaitu:
Memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan individual individu.
Guru yang menghargai berbagai karakteristik fisik, tipe-tipe kepribadian, dan bakat-bakat mereka dapat membuat peserta didik menjadi senang. Individu-individu yang tinggi dan pendek, gemuk damn kurus, yang serasi dan kikuk, yang sedih dan ceria, yang kalem dan pemarah semuanya harus mendapat tempat yang benar dalam hati guru.
Menyadari bahawa sebenarnya faktor lingkungan mempengaruhi segala aspek perkembangan.
Gen-gen mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan fisiologis dan pengaruh yang sedang terhadap karakteristik fisikologis yang kompleks. Meskipun demikian, perkembangan dan belajar harus dipandang sebagai suatu hasil pertumbuhan biasa dari aspek biologis yang sangat berpengaruh terhadap individu. Faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruh perkembangan individu melalui banyak cara seperti melalui layanan pengajaran dan bimbingan. Individu-individu yang secara genetik memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang yang mudah marah atau agresif dan dapat dilatih dan dibimbing seseorang yang lebih adaktif dan memperlihatkan tingkah laku prososial.
- Mendorong siswa menentukan pilihan-pilihan sendiri untuk meningkatkan pertumbuhan. Misalnya, untuk tumbuh menjadi lebih dewasa individu-individu dan remaja harus aktif mencari lingkungan-lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kemampuan naturalnya, dan guru mengambil posisi kunci untuk menolong mereka menemukan aktivitas dan sumber-sumber yang memungkinkan mereka menggunakan dan mengembangkan bakat-bakat mereka.

- Implikasi Perkembangan Otak Terhadap Pendidikan Dasar

            Otak adalah sebuah sistem biologis manusia yang sengaja diciptakan Allah Swt. untuk mengindera dunia dan sekaligus memberikan berbagai tanggapan terhadapnya. Otak berfungsi untuk mengoptimalkan perilaku sehingga tubuh mampu menghdapi tantangan dan kesempatan yang datang setiap saat. Aktivitas sel saraf yang terorganisasi akan dirasakan sebagai aktivitas mental yang teratur. Oleh karena itu, otak menjadi penentu utama keberhasilan proses pendidikan karena otak sentral dari semua aktivitas manusia baik aktivitas organ yang ada di dalam, maupun aktivitas pancaindra yang ada di luar.
            Perkembangan otak mulai terjadi sejak masa prenatal, yaitu 25 hari setelah konsepsi. Pada awal masa perkembangan ini otak terlihat seperti sebuah tabung yang tidak rata dan sangat halus (Raiport, 1992; Jonhson, 1998). Tabung halus ini berisi sel-sel yang kemudian membentuk kantong-kantong atau ruang-ruang. Ruang-ruang tersebut terbagi menjadi tiga ruang, yaitu forebrain (otak depan), mitbrain (otak tengah), dan hindbrain (otak belakang).
            Perkembangan otak pada usia sekolah dan remaja banyak terjadi di wilayah korteks, suatu wilayah otak di mana individu dapat mengontrol tingkah lakunya sendiri. Selama masa usia sekolah, korteks mengalami perkembangan puncak dan terus diperbaiki dalam masa remaja (Kolb dan Vantien, 1998).
            Dalam hal ini, pendidikan harus memberikan lebih banyak kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai keterampilan-keteramppilan yang memungkinkan otaknya berkembang. Proses pembelajaran harus jauh dari upaya menjejalkan pengetahuan ke dalam otak anak. Penjejalan pengetahuan secara berlebihan justru akan mengganggu pemahaman dan melelahkan otak anak. Menjejali otak anak dengan sejumlah besar informasi dan pengetahuan malah akan mematikan kecerdasan oleh karena itu, pendidikan seharusnya merupakan upaya pengembangan segala potensi anak, melatih pengamatan, dan pemngambilan keputusan, merangsang pemikiran dan imajinasi, memperdalam pemahaman dan memperkuat konsentrrasi.

- Karakteristik Individu dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Dasar
            Karakteristik individu adalah keseluruhan kelakukan dankemampuan yang ada pada individu sebagai hasil pembawaan dan lingkungannya. Untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu baik dalam hal fisik, maupun mental biasanya digunakan istilah nature dan nurture. Nature (alam, sifat dasar) adalah karakteristik individu atau sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan, sedangkan nurneture (pemeliharaan, pengasuhan) adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak dari masa pembuahan sampai masa selanjutnya.
Adanya karakteristik individu yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan tersebut jelas membawa implikasi terhadap proses pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, proses pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik secara individu. Ini berarti bahwa di dalam proses belajar mengajar setiap individu peserta didik memerlukan perlakuan yang berbeda sehingga strategi dan pelaksanaannya pun akan berbeda-beda.
Pemahaman pendidik tentang karakteristik peserta didik akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih baik atau lebih tepat yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi peserta didik. Ketepatan pemilihan pola mengajar akan menimbulkan proses interaksi dari masing-msing komponen belajar mengajar secara optimal. 
Perkembangan Kemandirian Peserta Didik dan Implikasinya dalam Dunia Pendidikan
Kemandirian adalah kecakapan yang berkembang sepanjang rentang kehidupan individu. Pengembangan kemandirian peserta didik meliputi:
Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis
Mendorong individu berpartisipasi dalam mengambil keputusan
Memberi kebebasan kepada individu untuk mengeksplorasi lingkungan
Penerimaan positif tidak membeda-bedakan individu yang satu dengan yang lain
Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan individu.
Implikasi  Perkembangan Kognitif Terhadap Pendidikan Dasar
Perkembangan kognisi adalah perkembangan tentang pengetahuan. Perkembangan kognitif meliputi kemampuan metakognitif, strategi kognitif, gaya kognitif dan pemikiran kritis. Metakognisi adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognitif atau pengetahuan tentang pikiran dan cara kerjanya. Strategi kognitif merupakan salah satu kecakapan aspek kognitif yang penting dikuasai oleh peserta didik dalam belajar atau memecahkan masalah.
Kemampuan metakognisi merupakan aspek-aspek kognitif yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Peserta didik diharapkan mampu mengembangkan dan menggunakan strategi kognitif secara efektif. Ini berarti bahwa perkembangan metakognisi dan strategi kognitif memberikan beberapa implikasi bagi pendidikan. Secara umum pengetahuan metakognitif mulai berkembang pada usia 5-7 tahun dan terus berkembang selama usia sekolah, masa remaja, bahkan sampai dewasa. Meskipun demikian hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan individual antara peserta didik dalam usia yang sama.
Flevel menyatakan bahwa individu-individu yang masih kecil telah menyadari adanya pikiran, memiliki keterkaitan, atau terpisah dengan dunia fisik, dapat menggambarkan objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara akurat atau tidak akurat, dan secara aktif menengahi interpretasi tentang realitas dan emosi yang dialami. Individu-individu usia 3 tahun telah mampu memahami bahwa pikiran adalah peristiwa mental internal yang menyenangkan (merujuk pada peristiwa-peristiwa nyata atau khayalan). Mereka juga dapat membedakan pikiran dengan pengetahuan.
Berdasarkan kemampuan metakognisinya proses pembelajaran pada individu-individu bukan semata-mata proses penyampaian materi bidang ilmu tertentu saja, sebaliknya yang lebih penting adalah proses pengembangan pengetahuan strategi kognitif peserta didik. Hal inilah yang menjadi kunci pendidikan untuk membantu siswa dalam mempelajari serangkaian strategi yang dapat mengahasilkan solusi problem.
Berikut ini beberapa upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan kemampuan metakognisi dan strategi kognitif.

1.            Pendidik harus mengajarkan dan menganjurkan kepada peserta didik untuk menggunakan strategi belajar yang sesuai dengan kelompok usia mereka.

2.             Memberikan pelatihan tentang strategi belajar, kapan dan bagaimana menggunakan strategi untuk mempelajari tugas-tugas baru dan sulit. Penelitian tentang pelatihan strategi menunjukkan bahwa terjadinya kemajuan belajar secara subtansial setelah peserta didik mengikuti pelatihan strategi di sekolah (Seiffer dan Hofnung, 1994).

3.             Menunjukkan strategi belajar yang efektif serta mendorong peserta didik untuk menggunakan strateginya sendiri.

4.            Mengidentifikasi situasi-situasi di mana suatu strategi memungkinkan untuk digunakan.

5.            Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sendiri dengan sedikit atau tanpa bantuan dari pendidik.

6.            Memberi kesempatan seluas luasnya kepada peserta didik untuk mengakses hasil belajarnya sendiri, sehingga mereka bisa mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan apa yang belum diketahuinya.

7.            Sering memberikan umpan balik tentang kemajuan belajar mereka ketika pendidik sering memberikan umpan balik. Ia tidak hanya meningkatkan belajar dan prestasi akademik peserta didik di kelas, tetapi juga membantu metakognitif mereka berkembang dengan baik. Pendidik dapat juga menggunakan umpan balik untuk mendorong perkembangan strategi belajar siswa yang lebih efektif.

8.            Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi belajarnya sendiri dan menolong mereka mengembangkan mekanisme melakukan perbuatan belajar yang efektif.

9.            Mengharapkan dan menganjurkan peserta didik untuk belajar mandiri, yakni melakukan perbuatan belajar sendiri, menentukan sendiri apa yang harus dilakukan memecahkan masalah sendiri, tanpa bergantung pada orang lain (Desmita, 2009:143-144).

Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual  Terhadap Pendidikan
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi dengan orang lain (Santrock, 1998). Individu-individu ketika dilahirkan tidak memiliki moral tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Individu belajar memahami perilaku baik dan perilaku buruk melalui orang tua, saudara, teman sebaya, dan guru.
Perkembangan spiritural adalah  suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirinya sendiri (Witmer, 1989). Bollinger (1969) menggambarkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan terdalam dari diri seseorang yang apabila terpenuhi individu akan menemukan identitas dan makna hidup yang penuh arti. Istilah spiritual dan religius sering sekali dianggap sama, namun banyak pakar yang menyatakan keberatannya jika kedua istilah ini dipergunakan saling silang. Spritualitas kehidupan adalah inti keberadaan dari kehidupan. Spiritualitas adalah kesadaran tentang diri, dan kesadaran individu tentang asal, tujuan, dan nasib. Agama adalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik di atas dunia. Agama memiliki kesaksian iman, komonitas, dan kode etik. Dengan kata lain spiritualitas memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu, sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa spiritualitas merupakan gabungan dari semua dimensi: 1) Sense of meaning, 2) concept of divine, absolute, or force greater than one’s self, 3) relationship with divinity and other beings, 4) tolerance or negatife capability for mystery, 4) peak and ordinary experience engaget to enhance spirituality (may include rituals or spiritual discliplines), dan 6) spirituality as a systemic force that acts to integrate all the dimensions of one’s life (Desmita, 2009:277).
Memerhatikan uraian tentang perkembangan moral dan spiritual seperti yang telah dipaparkan, sekolah sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan moral dan spiritual mereka sehingga mereka dapat menjadi manusia yang moralis dan religius. Beberapa strategi yang mungkin dapat dilakukan dalam membantu perkembangan moral dan spiritual peserta didik, yaitu:
1.      Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kerikulum tersembunyi.
2.      Memberikan pendidikan moral langsung, yakni pendidikan moral dengan pendekatan pada nilai dan sifat.
3.      Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi nilai, yaitu pendekatan pendidikan moral tidak rangsung terfokus pada upaya membantu siswa untuk memperoleh kejelasan mengenai tujuan hidup mereka.
4.      Menjadikan wahana yang kondusif bagi peserta didik menghayati agamanya.
Dengan pendekatan itu yang ditonjolkan dalam pendidikan agama adalah ajaran dasar agama yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas.
5.      Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui pendekatan spiritual parentin.

2.2.8        Implikasi Proses Penyesuaian Individu Terhadap Penyelenggaraan
Pendidikan

Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa setiap individu. Sekolah selain mengemban fungsi pengajaran juga mengemban fungsi pendidikan. Dalam kaitannya dengan pendidikan ini, peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga, yaitu serujukan dan tempat perlindungan jika individu didik mengalami masalah. Oleh karena itulah, di setiap sekolah ditunjuk wali kelas, yaitu guru-guru yang akan membantu peserta didik menghadapi kesulitan dalam pembelajarannya dan guru-guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu peserta didik yang mempunyai masalah pribadi, dan masalah penyesuaian diri baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap tuntutan sekolah.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempelancar proses penyesuaian diri  setiap individu khususnya di sekolah adalah sebagai berikut.
1.      Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah bagi individu didik baik secara sosial, fisik, maupun akademis.
2.      Menciptakan suasana belajar mengajkar yang menyenangkan bagi peserta didik.
3.      Usaha memahami peserta didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.      Menggunkan metode dan alat mengajar yang menimbulkan gairah belajar.
5.      Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
6.      Ruangan kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
7.      Peraturan atau tata tertib yang jelas dan dipahami oleh peserta didik.
8.      Guru menjadi teladan dalam segala aspek pendidikan
9.      Kerja sama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksindividuan kegiatan pendidikan di sekolah.
10.  Pelaksanaan program bimbingan dan penyeluhan sebaik-baiknya.
11.  Situasi kepemimpinan yang saling pengertian dan tanggung jawab baik pada guru, maupun pada siswa.
12.  Hubungan yang baik dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyarakat (Sunarto dan Hartono, 2008:240).
Guru merupakan figur pendidik yang penting dan besar pengaruhnya terhadap penyesuaian peserta didik, maka dari itu seorang guru harus memiliki sifat-sifat yang efektif, yaitu sebagai berikut.
1.      Memberi kesempatan, antusias, dan berminat dalam aktivitas peserta didik di kelas.
2.      Ramah ( cheerful) dan optimis.
3.      Mampu mengontrol diri, tidak mudah terganggu, dan teratur tindakannya.
4.      Senang akan canda gurau dan mempunyai rasa humor.
5.      Mengetahui dan mengakui kesalahan-kesalahannya sendiri.
6.      Jujur dan objektif dalam memperlakukan peserta didik.
7.      Menunjukkan pengertian dan rasa simpati dalam bekerja dengan peserta didik (Ryans dalam Sunarto dan Hartono, 2008:241).   

Daftar pustaka:
Rachdian. Aqilaputri. 2010. Pertumbuhan dan perkembangan. http://www.aqilaputri.rachdian.com/
(diakses selasa 7 November 2017)